Lojikata, Jakarta – Di tengah persaingan pasar teknologi yang semakin intens di Indonesia, Sony tidak sekadar hadir sebagai merek global yang familiar. Perusahaan asal Jepang ini menunjukkan arah strategi yang lebih ambisius dan visioner: membangun hubungan dengan konsumen muda melalui konten yang menggugah dan nilai budaya yang relevan.
Memasuki tahun 2025, Presiden Direktur PT. Sony Indonesia, Motoya Itako, mengejawantahkan perubahan orientasi yang tidak lagi hanya fokus pada distribusi perangkat keras semata. Menurut Itako, yang memimpin Sony Indonesia dengan pengalaman panjang di industri teknologi dan hiburan di kawasan Asia, investasi konten menjadi kunci utama. Sony akan memperluas perannya ke ranah konten anime, musik, dan film, sebuah langkah yang menandai transformasi dari sekadar penyedia gadget menjadi pencipta pengalaman budaya digital yang lebih luas bagi generasi muda Indonesia.
Apa yang sedang terjadi di Indonesia bukan sekadar strategi pemasaran biasa. Ini adalah jawaban terhadap dinamika konsumen muda yang kini haus akan kualitas narasi, bukan sekadar spesifikasi produk. Pasar Indonesia, yang dipenuhi generasi digital native dengan selera estetika tinggi, menawarkan panggung luas bagi Sony untuk menerjemahkan portofolio globalnya menjadi cerita yang relevan secara lokal. Fokus pada anime dan film, misalnya, bukan semata soal profit jangka pendek; itu adalah cara Sony berbicara dengan konsumen lewat bahasa konten yang melekat di kehidupan mereka sehari-hari.
Strategi ini berakar pada pemahaman bahwa hubungan emosional dengan merek lebih kuat daripada sekadar transaksi teknis. Sony menyadari bahwa untuk memenangkan hati konsumen muda di Indonesia, pendekatan harus menyentuh dua hal sekaligus: kualitas produk dan kedalaman pengalaman budaya digital. Dengan membawa konten anime dan musik sebagai bagian dari strategi inti, Sony memperluas posisinya dari sekadar produsen elektronik menjadi bagian dari ekosistem kreatif yang hidup di benak konsumen masa kini.
Pandangan Itako memberi kita gambaran lebih jauh. Ia tidak hanya bicara tentang angka penjualan, tetapi tentang visi bagaimana Sony dapat menjadi mitra perjalanan konsumsi budaya digital generasi baru. Di era di mana konten dan teknologi tak lagi dipisahkan, langkah Sony di Indonesia mencerminkan strategi adaptif terhadap perubahan perilaku konsumen global dan lokal sekaligus.
Dengan demikian, upaya Sony di Indonesia bukan hanya soal memperkenalkan produk baru atau agresif di pasar. Ini tentang membangun ekosistem pengalaman yang resonan dengan nilai budaya dan aspirasi konsumen muda, sebuah pendekatan yang mungkin akan menjadi standar baru bagi merek teknologi global yang ingin relevan di era digital saat ini. (IN/LJK)
Sumber: Tempo.co https://www.tempo.co/ekonomi/strategi-sony-di-pasar-indonesia-2057103





